There are currently 2673 movies on our website

Cerita Sex : Petualangan Birahi Hot

0
(High Quality)

Cerita Sex : Petualangan Birahi Hot

Cerita Sex : Petualangan Birahi Hot – Petualanganku di dunia birahi sudah malang melintang. Dimana pun lokasi syur di Jakarta sudah pernah ku datangi. Ada satu tempat favoritku di daerah Jakarta Timur. Tempat itu memang untuk kelas bawah, tapi aku menemukan keunikan tersendiri di situ. Ceweknya banyak yg muda-muda dan masih polos seperti orang desa. Dandanannya pun masih seperti di kampungnya.

Cerita Sex : Petualangan Birahi Hot

Aku akhirnya punya langganan, namanya Katem, tapi lalu kuganti namanya jadi Ami. Jadi aku panggil dia Ami. Dia akhirnya terbiasa. Suatu hari dia bercerita ingin pulang kampung. Aku menawarkan diri untuk mengantarnya sampai ke rumahnya. Dia dengan senangnya menyambut tawaranku. Kami akhirnya janjian untuk berangkat bersama.

Kami janjian ketemu di halte mikrolet di dekat pasar. Dari situ kami menuju Pulo Gadung untuk mengambil bus jurusan Cirebon.

Baru sekali itu aku naik bus dari Pulo Gadung dan bersama cewek. Sorry aku lupa menggambarkan bagaimana profil Mia. Umurnya sekitar 15 tahun, wajahnya manis, kulitnya agak gelap tingginya sekitar 155 cm. Rambut hitam lurus sebahu. Bicara kurang lancar berbahasa Indonesia, dia sekolah sampai kelas 4 SD.

Sekitar 4 jam akhirnya kami sampai di pemberhentian sebelum kota Indramayu.

Sebut saja KS, kami menyeberang jalan, dan di situ sudah ada puluhan ojek. Mia menyebut nama kampungnya dan kami menyewa 2 ojek dengan ongkos masing-masing 20 ribu. Rupanya tempatnya jauh juga masuk kedalam.

Di kampung-kampung Indramayu dan Karawang, cukup banyak ortu yg menganjurkan anaknya jadi pelacur. Jadi mereka sama sekali tdk keberatan ketika anaknya punya tamu. Bagi ortunya tamu itu adalah rejeki dan ini masuk area bisnis jadinya.

“anak nginep disini aja, pulang ke jakarta besoklah, ngapain buru-buru pulang,” kata bapaknya.

Jadi sebelum gue memohon sudah ditawari so ya why not kan. Lantas gue keluarin Rp 100k kasi langsung sama emaknya.

” Mak ini buat beli makanan, nanti malam saya makan disini.”

Cerita Dewasa | Wah itu emak langsung buru-buru pergi, pulangnya nenteng ayam hidup, lalu bapaknya suruh motong tuh ayam. Malamnya hidangannya adalah ayam goreng, sambel dan lauk berkuahnya 2 bungkus indomi direbus dengan banyak air. Yg makan berenam. Adik si cewek ada 2 soalnya. Gue gak bisa makan banyak, tapi dipaksa juga. Gue kurang selera, karena ayamnya masih keras dan masih bau amisnya ayam. Gue telen-telenin aja, abis kepaksa. Mau makan indomienya. Biasanya dua bungkus gue makan sendiri, ini dua bungkus dimakan berenam. Wah gue jadi gak enak body.

Abis makan gue keluarin 50 k kasi ke bapaknya untuk beli rokok dan 50k lagi gue kasi ke dia juga dengan pesen untuk keamanan.

Wekkk rumah tuh bapak akhirnya dijagain 2 hansip kampung semalaman. Buset deh, jadi raja minyak gue di kampung ini. Abis makan bukan terus tiarap, ngobrol dulu ama bokapnya ke utara-selatan. Yah bisa-bisa gue menerka minat obrolan dia. Begitu gue tau dia tertarik ama pertanian. Gue keluarin jurus-jurus dewa mabok gue untuk mengimbangi percakapannya. Bukan mau sombong sih diajak ngomong soal apa aja dari mulai menanam padi sampai nuklir korea utara gue bisa njabani. Kalo soal olah raga gue nyerah deh, gak hobi. Namanya ilmu dewa mabuk, si bapak jadi kalah ilmu ama gue, wakakakak.

Gue inget hari itu dia nanya-nanya nanem apa yg hasilnya lumayan. Gue bilang semangka tanpa biji bagus tuh pasarnya. Dia bingung, semangka tanpa biji yg ditanam apanya. Gue bilang ya biji, ada tuh bibitnya di jual kalengan cuma harganya rada mahal.

“mau dong” kata bapaknya. Yah nanti deh kalo sy kemari lagi.

Ngobrol sampai jam 10 an sambil minum kopi dan makan kacang garuda. Akhirnya tuh bapak nyadar juga dan nyuruh gue istirahat. ” Kamarnya udah disiapi, silahkan nak istirahat dulu.”. Jam 10 malam di kampung, sunyinya kayak orang tuli, mana gelap lagi. Tapi gue PD aja meski rada was-was juga, Gimana gak PD rumah dijagai 2 hansip. Kayaknya hansip kelurahan.

Was-wasnya kalau ada apa-apa gue lari kemana. Gue kan gak bawa kendaraan. Oh ya gue lupa. Kalo masuk kampung pedalaman gitu dan mau nginep jangan bawa mobil, mencolok bo. Orang jadi banyak perhatiin kita. Kalo kita datang naik ojek, kita jadi membaur dan gak kelihatan mentang-mentang.

Si bapak nunjuki kamar tidur untuk gue, dan anak perempuannya udah tiduran di situ. Kamarnya cuma diterangi lampu minyak dan yg istimewa tempat tidurnya pake kelambu. buset dah seumur-umur gue baru pernah kali itu tidur pake kelambu.

Tadinya pengen malu, tapi karena bapaknya nganjurin gue tidur ama anaknya, gue jadi bingung pengen malu ama siapa wakakakakak.

Besok paginya gue rada kesiangan bangunnya, malemnya kebanyakan tiarap kali ya. eh si cewek walau udah bangun tapi dia belum keluar dari tempat tidur.Mungkin nunggu sampai gue juga bangun.Wah setia banget.

Di luar udah disiapi kopi dan nasi goreng. Wuissh raja minyak diservice abis.

Gue salut ama diri gue sendiri, sebab petualangan itu gue jalani sendiri tanpa kawan. nekat abis. Gue akhirnya nginep lagi semalem, mengingat dana dikantong masih mencukupi dan gue rasa aman-aman aja. Seharian di kampung gue ditemani tetangganya (laki-laki) nyewa motor muter-muter di kampung. Eh dia malah nunjuki potensi cewek di desanya. Jadi gue dikenali ama banyak cewe. Buset banget, ternyata banyak yg ok. Gilanya dia nawari perawan. Bukan satu, kalo gue nggak salah inget ada 3 semuanya dikenali ke gue.

Tetangga sebelah si Mia ini rupanya juga lagi pulang kampung. Gilanya dia kelihatan lebih muda, mungkin usianya masih 13 – 14 tahun . Aku diperkenalkan dan dia mengaku kerja (melacur) di daerah Cilincing. Tempat yg dia sebutkan itu belum pernah aku datangi.

Setelah nginap semalam aku kemudian pamit kepada orang tua si Mia. Diantar oleh tetangganya aku berangkat dari rumah Mia. Heri begitu nama tetangga Mia yg menjadi penunjuk jalan.

Aku bukan sungguh-sungguh pulang tapi pindah nginap di kampung yg letaknya jauh lebih ke pelosok. Tujuannya adalah rumah Nani. Anaknya manis agak tinggi sekitar 160 usianya juga masih amat belia sekitar 15 tahun. Dia termasuk stok baru, karena belum pernah dikaryakan. Kata Heri Nani baru cerai. Padahal mereka belum genap 3 bulan kawin. Seperti diceritakan Heri, orang-orang di kampung itu banyak yg kawin singkat hanya untuk mengejar status janda. Dengan status janda, dia bisa punya KTP dan bisa kerja ke kota.

Rumah Nani tdk begitu besar, berdinding separuh tembok separuh bambu anyaman (gedek).. Kami disambut seorang wanita usianya sekitar 32 tahun, dia adalah ibunya Nani.

“Mari mas masuk,” katanya mempersilahkan kami.

Aku memilih duduk di bale-bale (amben) bambu di teras rumahnya. Sementara itu Heri masuk bersama ibunya Nani, sepertinya ada yg mereka rembukkan.

“Dari mana mas,” tanya ibu si Nani.
“Jakarta,” jawabku singkat.

Maknya si Nani ini kelihatan akrab sekali, sedangkan aku masih rada kikuk. Aku merasa malu karena niatku akan menginap di rumah itu, kayaknya vulgar banget. Tapi Bu Karta begitu dia mengenalkan namanyam dia pintar sekali mencairkan suasana, dan dia sudah tau betul niatku .

“Mas tunggu sebentar ya, si Nani lagi mandi, katanya.

Kami mengobrol macam-macam sampai aku tahu bahwa Bu Karta ini juga janda dengan 2 anak. Anak yg pertama laki-laki sekarang kerja di Jakarta.. Jadi mereka hanya tinggal berdua.

“Masnya jadikan menginap di sini,” tanya Bu Karta.
“ Kalau ibu boleh, ya saya mau,” kataku.
“Ya boleh lah mas, hotel dari sini jauh, tapi disini rumah kampung, nggak ada listrik, rumahnya juga jelek, nggak kayak rumah di Jakarta, gedongan semua,” katanya merendah.

Heri memberi kode agar aku ikuti dia. Heri membrief aku , bahwa semuanya oke dan ada juga uang keamanan. Dia mau pamit, dan aku minta dia datang lagi besok jam 10 pagi.

Heri kemudian pamit kepada mak nya Nani dan segera ngacir.

Perutku sudah rada kroncongan karena sekarang udah jam 1 siang. Kutarik 5 lembar uang 20 ribuan dan kuserahkan ke Bu Karta. “ Ini bu untuk beli makanan, siang ini ibu beli indomi bangsa 5 bungkus, minyak goreng dan kalau ada sedikit tepung sagu (kanji), lainnya beliin tempe dan cabe rawit ijo juga bawang putih.

Ibunya masuk ke dalam rumah sebentar dan keluar lagi membawa secangkir kopi. Tak lama kemudian datang belanjaan. Rupanya Bu karta minta tetangganya untuk belanja , pantesan dia gak beranjak dari tadi.

“Mas tepung sagunya mau dibuat apa ya,” katanya.
“Mau buat mi bu,” kata ku.
“ Ah jangan panggil bu ah, panggil mbak aja, kayaknya kok jadi tua banget ,” katanya sambil matanya genit..
“Boleh saya masak mi nya di dapur bu,”
“Eh masnya pinter masa yaa, tapi dapurnya jelek dan kotor” katanya lalu membibimbingku ke bagian belakang rumahnya.

Aku berpapasan dengan Nani yg berbalut handuk masuk dari belakang rumah. Dia malu-malu menundukkan muka , langsung masuk kamar.

Aku meminta 3 bungkus indomi untuk digoreng .

“Sini mas kita saja yg goreng,” kata bu karta. Orang di Indramayu ini menyebut kita untuk aku.

Setelah mi di goreng aku minta dia merebus air dan pinjem mangkuk untuk mencampur air dengan tepung sagu . “ Segini cukup gak mas airnya.

“Kurangi dikit mbak.”

Setelah air menggelegak aku masukkan air campuran dengan kanji dan bumbu mi instannya. Setelah mendidih dan kuah agak mengental kuminta dipindahkan ke tempat lain. Sekarang makanannya sudah siap.

Mas kita cuma punya nasi ama ikan asin. Lalu kami pun mengelilingi meja makan yg posisinya ditempelkan ke tembok dengan 4 kursi. Aku duduk di tengah, disamping ku Nani, dan di kiriku Bu karta.

“Wah enak mi-nya mas, masnya pinter masak juga ya,”
” Ini namanya ifumi, tapi sebenarnya bumbunya lebih lengkap dari ini ada sayur, ada bakso, baso ikan, dan udang segala, tapi karena adanya ini ya begini aja lah,” kata ku .
“Enak ya mak, kita jadi pengin nambah mi nya lagi,” kata Nani yg makan sambil duduk kakinya diangkat satu (metingkrang).
“Mas itu ada tempe mau diapain, biar kita yg ngerjain,” kata mak Karta.
“Digoreng aja biasa mbak,” kata ku.

Dia lalu menghilang ke belakang tinggal aku dan Nani di ruang yg rada gelap. Kami ngobrol dan aku mengorek banyak informasi. Katanya dia sudah ditawari kerja ke Jakarta, Tapi maknya belum ngasih karena sendirian di rumah.

Gak terasa sudah jam 4 sore, cuaca mulai teduh.

“ E mas-e mau mandi kan, ayu bareng kita ke belakang saya unjukin tempatnya.” kata mak Karta.

Aku segera mengorek isi tas ku mengambil sabun cair, handuk dan celana pendek serta kaus oblong, juga sikat gigi.

Maknya Nani juga kelihatannya bawa perlengkapan mandi nani juga . mereka masing masing menjinjing ember kecil. Mereka mau mandi juga nampaknya.
Kami sampai di halaman belakang yg jaraknya sekitar 10 m dari rumah ditengh kebun singkong. Di situ hanya ada ponpa tangan dan ember yg lebar. Tdk ada dinding, sehingga sama sekali terbuka. Aku melihat ke sekeliling, tdk ada bangunan apa pun . Ternyata kamar mandinya ya di pompa itu. Di situ hanya ada dua tonggak yg dihubungkan dengan kawat. Maksudnya mungkin untuk jemuran. Mereka berdua lalu melampirkan handuk, dan baju-baju mereka.
Kulihat mereka gak bawa sarung, aku jadi mikir nih mereka mandinya gimana. Aku diam aja sambil pura-pura terlihat biasa sambil menyampirkan baju-bajuku dan membuka semua pakaianku kecuali celanda dalam yg memang bentuknya boxer.

Si mak giat sekali memompa. Aku segera mengambil alih memompa . Astaga mereka berdua membuka semua bajunya sampai telanjang bulat di depan ku lalu jongkok di pinggir ember. Dengan gayung bekas kaleng susu mereka membasahi semua badannya lalu menyabuni tubuhnya Aku terus memompa sambil pura-pura cuek, padahal dedeku mulai mengembang.

“ Udah itu mas air juga udah penuh masnya juga mandi sini, kata si mak,”

Aku tdk mau kalah dengan aksi mereka, Aku berbalik dan segera melepaskan celana dalam, dan kugantungkan dengan bajuku. Kututup burungku lalu aku jongkok berhadapan dengan mereka. Pembatas kami hanya ember.

“Wah masnya gak biasa mandi di kampung jadi masih malu ya mas,” kata Mak karta.

Aku hanya nyengir,

“Ah nggak mbak, Cuma burungku susah diatur,” kataku berkilah.
“Mas nya gak biasa sih jadi burungnya kaget kali, “ kata bu Karta.

Ibu nya si Nani ini tampak makin cantik ketika semua rambutnya dibasahi. Toketnya cukup montok mungkin ukuran 38 , perutnya agak gendut sedikit, tapi masih bisa digolongkan ramping untuk seumuran dia, pantanya buset gede banget, begitu juga pahanya. Badannya putih mulus pula.

Nani badan gadis remaja Teteknya masih mancung menantang dengan putting kecil yg belum berkembang, jembutnya masih jarang sekali, berbeda sama jembut ibunya.

Karena mereka cuek, aku juga cuek aja, meski pun barangku ngacung terus. Ah normal aja pikir ku, laki-laki dekat perempuan telanjang pula pastilah on. Gitu dong mas jangan malu-malu, Komentar ibunya sambil dia mengambil semacam sabut untuk menggosokkan badannya. Aku diberinya satu sabut yg kuperhatikan bentukunya bulat panjang seperti gambas atau oyong. Aku tenang saja menggosok badan ku sambil berdiri dan mereka berdua juga akhirnya berdiri sih. Mas sini aku gosok punggungnya dan mas gosok punggunya Nani.

Kami pun lalu berbaris saling menggosok. Mulanya aku menggosok punggung Nani, Tapi lama-lama tangan ku gak tertahan meremas pula tetek si Nani. Tapi dia diem aja. Si Ibu masih terus menggosok, tapi tdk hanya punggung juga sampai ke kaki-kaki pula Eh lama-lama naik sampai ke dekat dede ku. Di bagian vital itu disabuninya pula tapi gak pake sabut. Aku jadi menggelinjang gak karuan. Eh dia malah lama sekali berputar-putar menyabuni dedeku. Aku jadi gelap mata kutarik si Nani lalu kucium. Nani membalas. Aku udah kehilangan akal, sampai gak terasa kalau dedeku dibasuh air. Tapi aduh ternyata burungku dilomot sama si ibu. Buset kok jadi orgi di kebun singkong gini.

Aku tdk bertahan lama segera muncrat di dalam mulut si ibu. Dia buang air mani ku . Aku segera menempelkan barang ku ke pantat si nani yg kupeluk dari belakang sementera tanganku sudah dari tadi mengorek-korek itil si Nani sampai dia muncak juga nampaknya. Aku kemudian berbalik ke si emak dan kurangkul dia lalu kucium mulutnya. Dia membalas dengan ganas. Tangan ku tak hanya meremas teteknya yg super toge, tapi juga mulai mengelus-elus mekinya.. Aku mau balas dendam.

Perlahan-lahan kujilati tubuhnya kebawah sampai akhirnya aku berlutut dan di depanku terpampang vagina berjembut lebat. Lidahky mencari sendiri belahan vagina sambil tanganku menyibak hutan rimba. Vaginanya tdk ada baunya, malah cenderung bau sabun. Mulutku kubekap ke vaginanya dan kaki kirinya kupanggul dipundakku.Si emak berpegangan ke tiang sambil mendesis-desis. Gak sampai 2 menit dia sudah muncak dan sambil mengerang. Barangku jadi keras lagi aku segera berdiri dan kusuruh si emak membungkuk dengan sekali tusuk masuklah si dede ke meki emaknya dari belakang .

Aku sungguh terpesona dengan pemandangan pantat yg demikian besar membulat aku tabrak-tabakkan badan ku ke pantat si emak dan si emak mengimbanginya dengan mendesis-desis. Nani yg jongkok sambil mengguyur badannya memperhatikan kelakuan kami. Kupanggil dia agar mendekat. Nani menurut lalu aku sambil memompa emaknya aku geraygi badannya. Sekitar 5 menit si emak sudah bilang “ udah-udahmas ampun mas saya lemes banget,” katanya setelah dia meregang puncak orgasme.

Sementara aku masih nanggung.Kini nani ku minta nungging dan segera dedeku kuarahkan ke vaginanya dari belakang . Beda banget vagina sianak dengan si Mak, Si Emak tadi mudah sekali mencoblosnya. Kalau sianak pake rada dituntun baru bisa pelan-pelan masuk. Aku kembali memompa dan karena ketatnya liang nani aku tdk mampu bertahan lama baru sekitar 5 menit aku sudah merasa akan meledakkan lahar. Kucabut dari meki si Nani lalu ku tembakkan ke udara bebas.

Si emak lagi di duduk dilantai lemes. “Si emas jago banget maennya,” kata emak.

Kami lalu menuntaskan mandi dan segera kemlai ke rumah. Kami jadi makin akrab dan aku segera dibawanya masuk ke ruang tidur. Kamar tidur itu adalah satu-satunya kamar tidur di rumah itu. Di situ terbentang 2 kasur yg didempetkan namun dengan dua sprei yg berbeda corak. Aku disuruhnya istirahat tiduran. Dan mereka berdua juga ikut tidur mengapit aku.

Si emak ini agresif sekali. Kalau bicara sebentar-sebentar nyium pipiku. “Aku gemes sama si emas abis cakep sih,” katanya.

Karena matahari masih mencorong dan kami di dalam kamar yg tdk berventilasi, dengan birahi tinggi maka badanku cepat sekali berkuah alias berkeringat.

“Panas banget boleh gak kita buka baju, “ kata ku menyebut diriku dengan kita menyesuaikan bahasa mereka.

Tanpa menunggu jawaban dari mereka aku segera bangkit dan melepas tdk hanya baju tetapi semua busana ku sampai aku telanjang bulat.

“ Kok dibuka semuanya,” kata si Nani.
“Abis panas, lagian kan tadi udah pada liat di sumur, jadi malunya udah ilang,” kata ku.
“Idih,” kata Nani.

Aku kembali mengambil posisi di antara mereka dan diam saja tdk bereaksi. Si emak langsung meremas tol ku sambil menciumi pipiku. Kelihatannya dia menginstruksikan anaknya untuk juga menciumiku dari sisi lain. Nani gerakannya masih canggung, tapi aku diam saja. Emaknya bangkit sambil duduk mengintrusikan anaknya untuk menciumi seluruh badan ku.

Aku protes agar mereka juga telanjang sehingga kita bertiga sama posisinya. Emaknya lalu berdiri membuka semua bajunya dan dia juga menyuruh anaknya untuk membuka semua bajunya juga..

Si emak kembali mengajari anaknya bagaimana caranya menyenangkan laki-laki, sampai akhirnya anaknya disuruh ngemut tool-ku.

“ Jangan sampai kena giginya, nanti masnya ngrasa sakit. Mulanya si Nani agak ragu. Tapi kemudian ibunya memberi contoh dengan cara mempraktekkannya langsung lengkap menjilat kedua kantong zakarku sampai ke lubang matahari

Aku yg menjadi bahan praktikum, mengelinjang-gelinjang nikmat. Nani tampaknya berbakat, karena dalam waktu relatif singkat dia sudah menguasi ilmu oral-mengoral.

Setelah sekitar 10 menit kutarik tubuhnya ke atas lalu kusuruh dia duduk di dadaku kusuruh maju sedikit sampai mekinya tepat jangkauan lidahku. Kukuak vaginanya yg masih gundul dan baru berambut sedikit. Benjolan kecil nampak menonjol di ujung atas bibir dalamnya. Itu tanda dia sudah cukup terangsang, Segera lidahku menggapai clitoris sambil kedua tanganku menahan pinggulnya yg kalau kulepas gerakannya terlalu liar. Nani mendesis sambil mengerang.

Dia kelihatannya lebih rame dari pada ibunya. Ibunya yg dari tadi duduk saja memperhatikan permainan kami tiba-tiba bangkit. Aku tdk bisa jelas melihatnya, tapi aku merasa dia duduk mengangkangi badanku sambil menuntun tool ku yg lagi siaga ke dalam mekinya. Blebesss, masuk semua barang ku kedalam mekinya dan dia segera memaju mundurkan pinggulnya. . Toolku seperti diulek atau dikacau (stir). Kosentrasiku jadi terbelah. Tapi aku berusaha memuatkan serangan lidahku secara konstan di ujung clitoris si Nani. Nani makin hot terlihat dari gerakannya yg melawan tahanan tanganku.

Aku semakin keras menahan pinggul nani agar dia tdk menggelinjang terlalu liar. Akhirnya Nani sampai dan dia menjerit. Aku lalu membenamkan mulutku di meki nani. Ibunya nampaknya terpengaruh dengan teriakan Nani sehingga dia pun lalu mempercepat gerakkannya dan semakin liar sampai akhirnya dia juga berhenti dengan liang vaginanya berkedut. Dia memeluk anaknya .

Keduanya aku minta tidur telentang untuk istirahat. Aku mengambil alih dengan mencolokkan jari tengah kanan ke Nani dan jari tengah kiri ke emaknya. Aku meraba titik G spot mereka. Keduanya akhirnya teraba. Lalu ku usap halus. Mereka mulai bereaksi dan pinggulnya di gerakkan gak beraturan, kadang maju mundur kadang kiri-kanan, sampai tiba-tiba Nani teriak sekencang-kencangnya gak sampai semenit Emaknya juga ikut teriak panjang..

Mereka berdua seperti orang tak berdaya lemas dan pasrah. Aku segera mengambil alih untuk memuaskan diriku. Pertama kupilih meki emaknya, kugenjot sampai sekitar 10 menit, kemudian aku pindah ke nani dan kugenjot terus sampai akhirnya aku memuntahkan lahar putih jauh di dalam meki si Nany.
Kami tertidur bertiga dalam keadaan bugil..

Aku tdk sadar berapa lama tertidur sampai kudengar suara samar-samar emak si nani bangun .dia mencari lampu untuk dihidupkan, karena seisi rumah itu gelap gulita. Lampu yg dinyalakan adalah lampu minyak. Aku pun lalu bangun dan akhirnya kami bertiga dengan obor menuju ke sumur untuk membersihkan diri.

Aku merasa kayak punya dua istri dua di kampung ini. Tapi uniknya kedua istri itu anak dan ibu. Keduanya berlaku manja sekali dan sering menggelendot..

“Mas tempenya udah digoreng, mau dimasak apaan” kata si emak.
”Diulek pake 1 siung besar bawang putih dan cabe rawit ijo, tapi cabe dan bawangnya diulek dulu sama garam, jangan terlalu alus baru tempenya di teken-teken ke sambelnya,” kata ku.

Dengan lauk tempe itu kami bertiga makan malam dengan lahapnya.

“Enak banget ya padahal Cuma gitu aja bikinnya, “ kata si emak.

Selesai makan kami duduk di beranda rumahnya sambil aku dibuatkan kopi dan singkong rebus. Kami ngobrol sampai sjam 11 malam. Lalu kembali masuk rumah dan menutup pintu. Kami bertiga kembali berbaring dan aku selalu ditempatkan diantara mereka berdua.

Kami malam itu bertempur lagi sampai jam 2. Sampai akhirnya bangun agak kesiangan . Jam 7 baru kami terjaga dari tidur nyenak. Lalu kami buru-buru berkemas dan kembali ke sumur untuk membersihkan diri. Di sumur tdk terjadi insiden.

Jam 10 si Heri datang untuk menjemput aku. Si emak minta agar aku memperpanjang waktu dan minta Heri datang besok lagi.

1,877
FILM DETAILS Added 8 months ago
Cerita Sex : Petualangan Birahi Hot

Cerita Sex : Petualangan Birahi Hot Cerita Sex : Petualangan Birahi Hot – Petualanganku di dunia birahi sudah malang melintang. Dimana pun lokasi syur di Jakarta sudah pernah ku datangi. Ada satu tempat favoritku di daerah Jakarta Timur. Tempat itu memang untuk kelas bawah, tapi aku menemukan keunikan tersendiri di situ. Ceweknya banyak yg muda-muda […]

Genre: Cerita Dewasa

Etiketler: , , , ,

COMMENTS


You need to be logged in to post a comment.

StudioBokep.com : Film Bokep Online, Film Semi, Cerita Sex Dewasa

Nonton Film Bokep Telanjang, Bioskop Gratis Semi

Nonton Movies Bioskop Online Semi Hot Bokep